Home / Berita / Humaniora / Menuntut ilmu sampai ke negeri China ???
Photo Credit : https://goo.gl/images/a32km9
Photo Credit : https://goo.gl/images/a32km9

Menuntut ilmu sampai ke negeri China ???

“Uthlubul ‘ilma walaw bishshiin”, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Begitu titah sebuah hadis yang sekalipun lemah derajatnya, tetapi menjadi bukti tentang posisi strategis Cina. Mengapa negeri berjuluk tirai bambu dalam hadis tersebut dijadikan target menuntut ilmu?

Terlepas dari shahih tidaknya hadits ini, para Ulama banyak menyitirnya dalam khutbah-khutbah alasannya secara maknawi kalimat Tuntulah Ilmu sampai ke Negeri Cina adalah baik. “Cina itu hanya kiasan untuk mengingatkan umat tentang pentingnya menuntut ilmu walau sampai ke tempat yang jauh, sampai ke negeri-negeri seberang.

“Pada masa kepemimpinan Nabi Muhammad SAW di Jazirah Arab (antara 610-632 M), Cina dipandang sebagai wilayah dengan peradaban yang amat maju pada saat itu. Ekspedisi Islam yang “resmi” ke Cina dimulai pada masa pemerintahan khalifah Utsman ibn Affan, pemimpin ummat yang ketiga, sekitar 12 tahun setelah Nabi wafat (+/- 640 M). Setelah menaklukkan Bizantium dan Persia, pada tahun 650 M, khalifah Utsman mengirim ekspedisi ke Cina, dipimpin oleh Saad ibn Abi Waqqash, untuk menyampaikan ajakan kepada kaisar Cina agar memeluk agama Islam. Sebenarnya sebelum itu sudah cukup banyak pedagang-pedagang Arab yg mengunjungi Cina dalam rangka perjalanan bisnis, baik melalui darat maupun laut (jalur tersebut, terutama yang melalui darat kemudian dikenal dengan nama “jalur sutera”), sambil memperkenalkan ajaran Islam. Dinasti Tang mempunyai record untuk mengabadikan momen bersejarah tentang terjadinya kontak antara dua kultur ini. Bagi Muslim di Cina, kejadian ini dipandang sebagai momen kelahiran Islam di Cina. Untuk memperlihatkan kekagumannya pada Islam, dalam “History of Islam in China”, kaisar Yung Wei memerintahkan dibangunnya masjid pertama di Cina. Masjid kota Kanton yg didirikan sejak 14 abad yang lalu dan masih berdiri hingga saat ini. Salah satu kawasan pemukiman Muslim yang pertama kali berdiri di Cina ada di kota pelabuhan ini”.

Ada pertanyaan besar yang perlu dijawab, mengapa harus ke Cina? Kenapa tidak ke Yahudi, bukankah Al-qur’an mengatakan bahwa bangsa Yahudi diberi kepintaran oleh Allah SWT. Kenapa kita tidak diminta   Rasulullah SAW belajar saja dengan orang pintar?

Di antaranya, jauh sebelum ajaran Islam diturunkan Allah SWT, bangsa Cina memang telah mencapai peradaban yang amat tinggi. Kala itu, masyarakat Negeri Tirai Bambu sudah menguasai beragam khazanah kekayaan ilmu pengetahuan dan peradaban. Dalam dunia perdagangan, penduduk Cina dikenal sebagai masyarakat yang sangat pandai. Karena itu, di beberapa negara di dunia, penduduk Cina turut meramaikan perekonomian sebuah negara. Dan, Kota Guangzhou merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan tertua di Cina.

Tak bisa dimungkiri bahwa umat Islam juga banyak menyerap ilmu pengetahuan serta peradaban dari negeri ini. Beberapa contohnya, antara lain ilmu ketabiban, kertas, serta bubuk mesiu. Kehebatan dan tingginya peradaban masyarakat Cina ternyata sudah terdengar di negeri Arab sebelum 500 M.

Saat Dinasti Tang berkuasa, masyarakat Cina sudah mengenal uang kertas. Mereka melakukan peredaran atau pertukaran uang kertas bersama dengan kekaisaran Romawi dan Persia.

Sejarah mencatat bahwa Bangsa Cina adalah bangsa yang tidak pernah takluk atau berhasil dikuasai oleh Islam, baik secara Jihad maupun secara Dakwah. Posisi kekaisaran Cina dan  kekhalifahan Islam adalah mitra sejajar, mereka bukanlah negeri kafir dzimmi yang wajib menyetor jizyah ke baitul mal. Pada masa kejayaan Islam dibawah Kekhilafahan Abbasyah dengan Khalifah Harun ar Rasyid ditandai dengan mesranya hubungan dagang keduanya lewat jalur sutera yang terkenal itu.

Dari garis besar bangsa-bangsa didunia, hanya Cina dan bangsa timur lain seperti Jepang dan Korea yang belum pernah dikuasai oleh Islam. Ini jelas menunjukkan bahwa Cina yang dimaksud oleh Nabi SAW bukan sekedar kiasan untuk menuntut ilmu walau sampai ke tempat yang jauh sekalipun.

Cina adalah bangsa yang mempunyai sejarah panjang akan tradisi keilmuan dan sastra yang luar biasa. Cina adalah negeri berpenduduk terbesar sejagad raya, ras Cina maupun keturunannya tersebar seluruh belahan bumi ini. Dan sejarah niaga dari masa before christ (BC) sampai ke masa after dei (AD), dari jaman batu hingga ke perunggu dan mulai jalur sutera (silk route) hingga ke jalur laut (maritime route),  bangsa Cina selalu mengambil peran sentral dalam percaturan dunia.

Merujuk pada pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah. Beliau rahimahullah pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi, beliau menerangkan dalam fatwanya, “Seandainya hadits ini shohih, maka ini tidak menunjukkan kemuliaan negeri China dan juga tidak menunjukkan kemuliaan masyarakat China. Karena maksud dari ‘Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China’–seandainya hadits ini shohih adalah cuma sekedar motivasi untuk menuntut ilmu walaupun sangat jauh tempatnya. Karena menuntut ilmu agama ataupun pengetahuan yang lainnya sangat urgen sekali. Kebaikan di dunia dan akhirat bisa diperoleh dengan berilmu dan mengamalkannya”. [AnasH]

Referensi :

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/14/01/10/mz6q22-mengapa-menuntut-ilmu-hingga-ke-cina

http://adisaputranazhar.blogspot.co.id/2011/12/tuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-china.html

https://hendriyono.com/2012/06/24/tuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-china/

http://adisaputranazhar.blogspot.co.id/2011/12/tuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-china.html

(http://muslim.or.id/hadits/tuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-china.html)

Check Also

Photo Credit : https://goo.gl/images/qwi0n0

IKHTIAR MENJADI PEMIKUL KALAM ILAHI (Bagian 1)

Oleh: Abu Mutawalli[1] Menjadi pemikul kalam ilahi (penghapal Al-Qur’an) bukanlah hal yang mustahil namun juga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *