Home / Berita / Humaniora / IKHTIAR MENJADI PEMIKUL KALAM ILAHI (Bagian 1)
Photo Credit : https://goo.gl/images/qwi0n0
Photo Credit : https://goo.gl/images/qwi0n0

IKHTIAR MENJADI PEMIKUL KALAM ILAHI (Bagian 1)

Oleh: Abu Mutawalli[1]

Menjadi pemikul kalam ilahi (penghapal Al-Qur’an) bukanlah hal yang mustahil namun juga bukan hal dapat dimudahkan tanpa ikhtiar yang serius. Memang, secara implisit Allah telah menegaskan kemudahan ini dalam kitabNya[2], namun kemudahan tersebut sejatinya dapat dirasakan bagi mereka yang memiliki ikhtiar dan strategi yang tepat. Berdasarkan beberapa nasihat dan pendapat para ulama, setidaknya penulis dapat menyajikan beberapa faktor yang menjadi hal penting yang harus diperhatikan para penghapal Al-Qur’an untuk menjadi pemikul kalam ilahi.

A.   Faktor Penting dalam Menghapal Al-Qur’an

Secara umum Abdur Rauf mengatakan bahwa “Modal menghapal KalamNya yang paling utama adalah semangat yang bulat, dan do’a yang banyak, serta mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak taat dan menjauhi maksiat padaNya.”[3]

Imam Syafi’i sebagaimana dikutip Al-Hajiri berkata, “Wajib bagi para penuntut ilmu untuk memaksimalkan kesungguhan mereka dalam memperbanyak ilmunya, bersabar atas setiap penghalang yang tidak diharapkannya, mengikhlaskan niat kepada Allah dalam proses mendapatkannya, dan selalu berharap hanya pada Allah agar menolong kita untuk itu semua.”[4]

Untuk lebih jelasnya diantara faktor-faktor pokok dalam menghapal Al-Qur’an yang dijelaskan dalam beberapa literatur dapat di simpulkan sebagai berikut:

a.   Niat yang Ikhlas

Niat yang ikhlas merupakan faktor pendorong utama dan motivator terbesar untuk menghapal Kitabullah. Rasulullah SAW bersabda sebagaimana yang diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim bahwa ‘Segala perbuatan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan (pahala) apa yang diniatkannya’.”[5] Ibnu Abbas r.a. berkata, “Sesungguhnya seseorang dapat menghapal sesuai dengan kadar niatnya.”[6]

Sa’dulloh menjelaskan bahwa ciri-ciri orang yang ikhlas dalam menghapal Al-Qur’an antara lain: 1). Berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menghapal, walaupun menemui berbagai hambatan dan rintangan. 2) Selalu istiqomah (langgeng) membaca Al-Qur’an/ mengulang hafalan untuk menjaga hafalannya. 3). Mengulang hafalan tidak hanya sekedar mau musabaqah atau karena ada undangan khatam-an/sima’-an. 4). Tidak mengharapkan pujian atau penghormatan ketika membaca Al-Qur’an. 5). Tidak menjadikan Al-Qur’an untuk mencari kekayaan dan kepopuleran.[7]

Al-Hajiri mengatakan, “Jika Allah telah mengetahui kejujuran serta keikhlasan hambaNya dalam menghapal firmanNya, niscaya Dia akan memberikan taufiqNya, mengokohkan jalan, menggantikan baginya dengan kebaikan yang besar, dan akan memberikannya daya ingat serta pemahaman yang benar.”[8]

b.   Kemauan yang Kuat

Menghapal Al-Qur’an merupakan tugas yang agung dan membutuhkan perjuangan yang besar pula. Seorang calon penghapal Al-Qur’an tidak akan mendapati keberhasilan menghapal Al-Qur’an 30 juz jika tanpa kemauan yang kuat dan tekad yang bulat.

Sedangkan orang yang mengharap kepada Allah supaya ia hafal Al-Qur’an, tetapi ia tidak mempunyai tekad bulat untuk melakukannya hanyalah orang yang lemah, suka berkhayal, dan tidak memahami tabiat agama yang agung ini.[9]

Az-Zarnuji mengatakan bahwa, “Faktor-faktor penyebab kuatnya hafalan adalah kesungguhan dan keteguhan, mengurangi makan, shalat malam, dan membaca Al-Qur’an.”[10]

c.   Membenarkan Bacaan Al-Qur’an.

Sebelum mulai menghapal Al-Qur’an haruslah memperbaiki bacaan Al-Qur’an hingga baik dan benar terlebih dahulu. Untuk memudahkan menghapal Al-Qur’an, maka seorang calon hafizh harus sudah mampu membaca Al-Qur’an dengan benar, fasih, serta lancar. Sebaiknya sebelum menghapal Al-Qur’an dia sudah khatam mengaji Al-Qur’an secara bin-nazhar (melihat mushaf) kepada seorang guru yang ahli.[11] kepada syaikh yang baik bacaan Al-Qur’annya dan menguasai ilmu tajwid.[12]

Raghib As-Sirjani mengatakan, “Mempelajari ilmu tajwid merupakan hal yang sangat penting bagi orang yang ingin mahir membaca Al-Qur’an. Menguasai ilmu tajwid juga akan membantu dan mempermudah menghapal Al-Qur’an. Karena keunikan-keunikan dalam teknik membaca Al-Qur’an bisa mengokohkan hafalan.”[13]

Abdurrazaq mengatakan, “Orang yang mulai menghapal sendiri (tanpa membenarkan bacaannya kepada seorang syaikh) akan mengalami banyak kesalahan dalam harakat dan cara pelafazan sebagian kata….Bagi orang yang ingin menghapal Al-Qur’an pada tahun pertama tidak boleh menghapal Al-Qur’an sedikitpun, setelah tahun kedua barulah ia mulai menghapal.”[14]

d.   Mempersiapkan Kondisi Fisik dan Pikiran yang Sehat.

Kondisi jiwa seseorang mempunyai peran yang sangat besar, jadi bagi yang ingin menghapal Al-Qur’an persiapkanlah keadaan jiwa terlebih dahulu karena hal itu akan mempermudah menghapal Al-Qur’an.

Sa’dulloh menjelaskan tentang pentingnya kesehatan ketika menghapal: Orang yang badannya sakit akan kesulitan menghapal karena ia mungkin akan cepat lelah, pusing, dan hilang semangat. Begitu juga orang yang pikirannya tidak sehat akan cepat mengalami stress, tekanan jiwa akan sulit menghapal dengan baik. Karena itu, orang yang sedang menghapal Al-Qur’an hendaklah menghindarkan diri dari kegiatan-kegiatan yang dapat menimbulkan sakit, dan menjauhkan dari pikiran-pikiran yang merusak jiwa dan menghilangkan konsentrasi.[15]

Abdurrazaq mengatakan, “Kesehatan lensa mata ketika menghapal sangatlah penting. Orang yang menghapal Al-Qur’an harus membacanya dengan tenang dan memfokuskan penglihatannya pada ayat yang akan dihafal secara mendetail, kemudian mengulang-ulangnya dengan tenang.”[16] Jika menghapal dengan tenang dan terfokus, maka hafalannya akan semakin baik, begitu pula dengan kualitas hafalannya dikemudian hari.

Bagi mereka yang merasa kelemahannya ialah masalah intelligence-nya, maka jangan terlalu khawatir dengan masalah ini, karena kekurangan ini dapat ditutupi dengan meningkatkan kecerdasan emosi. Ary Ginanjar mengatakan bahwa, “Menurut hasil penelitian beberapa ahli, bahwa tingkat kecerdasan intelektual atau IQ relatif tetap, sedangkan kecerdasan emosi (EQ) dapat meningkat sepanjang kita hidup.”[17]

Robert K. Cooper dan Ayman Sawaf sebagaimana dikutip Ary Ginanjar mengatakan bahwa, “Kecerdasan emosi adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya serta kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, serta pengaruh yang manusiawi.”[18] Dan dalam dunia pedidikan kecerdasan emosi anak didik dapat memberi pengaruh yang signifikan akan sukses belajarnya, maka memberikan motivasi yang lebih bisa memberikan solusi bagi penghapal yang daya ingatannya sedikit lemah.

e.   Istiqomah (Disiplin)

Agar berhasil menghapal secara keseluruhan, Sa’dulloh menjelaskan bahwa, “Seorang calon hafizh harus disiplin dan istiqomah dalam menambah hafalan. Harus gigih memanfaatkan waktu senggang, cekatan, kuat fisik, bersemangat tinggi, mengurangi kesibukan-kesibukan yang tidak ada gunanya, seperti bermain dan bersenda gurau.”[19]

Jiwa yang siap bekerja keras dan disiplin terhadap waktu merupakan modal dasar dalam menghapal Al-Qur’an. Yahya bin Abu Katsir sebagaimana dikutip Al-Hajiri berkata, “Tidaklah ilmu itu didapat dengan bersantai-santai.”[20]

Kaidah yang paling penting untuk menghapal adalah membiasakan menghapal Al-Qur’an setiap harinya sesuai target, kemudian konsekuenlah terhadap ketetapan tersebut. Lawan berbagai bentuk godaan dan membuang jauh kemalasan, maka hafalan akan selalu beraada di otak.[21] Abdur Rauf berkata, “Dengan ihtimam (perhatian) yang tinggi akan mendorong untuk istiqomah dalam menghapal Al-Qur’an, walaupun ia harus menghadapi segudang rintangan.”[22]

Melaksanakan sesuatu secara kontiniu pada awalnya memang sangat susah dan sangat melelahkan. Bersabarlah dan janganlah bosan terhadap suatu hal yang diinginkan, kerena termasuk dari rintangan bagi seseorang yang berhasrat ialah perasaan bosan, perhatikanlah tali dengan sedemikian panjangnya di atas batu yang keras dapat membekas.[23]

f.   Senantiasa Mengulang Hafalan

Hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang penghapal Al-Qur’an adalah mengikat Al-Qur’an dengan banyak mengulang dan mengkajinya agar hafalannya tidak terlepas. Seorang yang menghapal Al-Qur’an harus berprinsip apa yang sudah dihafal tidak boleh lupa lagi. Untuk itu, selain harus benar-benar baik sewaktu menghapalnya, juga  harus menjaga hafalannya yaitu dengan cara mengulang-ulang (takrir) hafalan sambil terus menambah hafalan yang baru.

Seseorang yang melaksanakan tugas ini (menghapal Al-Qur’an) hendaknya secara berkesinambungan hingga menjadi kebiasaan baginya. Tiada hari berlalu melainkan ia akan menyempatkan diri mengulangi hafalan Al-Qur’annya, menghapal dan mematangkan hafalan sebelumnya.[24]

Al-Hajiri mengatakan, “Sesungguhnya masalah mengulang hafalan lebih besar daripada masalah hafalan itu sendiri. Karena itu, hendaklah selalu istiqamah (berkesinambungan) dalam mengulang hafalan dan selalu disiplin terhadap waktu untuknya.”[25] Dia juga mengingatkan kepada para penghapal, “Janganlah melewati sebuah surat hingga awal dan akhirnya saling berkait, sehingga engkau akan selamat dari kesalahan dan dengan cara inilah hafalan Al-Qur’an menjadi mantap.”[26]

Sa’dulloh mengatakan, “Ada beberapa model mengulang yang dapat dilakukan antara lain: 1). Mengulang sendiri, 2). Mengulang berjamaah bersama teman, 3). Mengulang dalam Shalat, 4). Mengulang di hadapan guru.”[27]. Dia juga mengatakan, “Materi takrir yang dibaca harus lebih banyak dari materi hafalan baru, yaitu satu banding sepuluh, artinya apabila seorang penghapal sanggup mengajukan hafalan baru setiap hari dua halaman, maka ia harus diimbangi dengan takrir dua puluh halaman (satu juz) setiap hari.”[28]

g.   Berdo’a kepada Allah

Diantara faktor penting yang bersifat abstrak adalah memohon kekuatan kepada Allah. Bergantung (tawakkal) pada Allah dan berdo’a memohon pertolongan-Nya adalah obat yang paling mujarab untuk mengatasi kesulitan ketika menghapal.[29] Sebagaimana firman Allah Swt dalam surah Al-Baqarah ayat 186:  “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

Jika engkau menemui kesulitan untuk mewujudkan keinginanmu dalam menghapal ayat-ayatNya maka perbanyaklah berdo’a, merendahkan diri kepada Allah agar Allah mengajari dan menolongmu dalam menghapal, karena tidak ada yang dapat menghilangkan kesusahan dan memberikan kelapangan kecuali Allah.

h.   Melaksanakan PerintahNya dan Menghindari Maksiat

Sesungguhnya beramal shalih serta meninggalkan maksiat merupakan faktor pendukung terbesar bagi seseorang ketika menghapal firman Allah. Menghapal bukanlah tujuan atau target akhir. Akan tetapi hafalan itu harus dibarengi dengan amalan konkret. Di atas semua itu, sesungguhnya mengamalkan sesuatu yang telah dihafal akan sangat memudahkan untuk melanjutkan hafalan yang baru.[30]

Sa’dulloh mengatakan, “Berakhlak terpuji dan menjauhi sifat-sifat tercela adalah cermin dari pengalaman ajaran-ajaran agama yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Sehingga terjadi korelasi antara sesuatu yang dihafal dan dipelajari dengan pengalaman sehari-hari.”[31]

Anas bin Malik berkata: “Berapa banyak orang yang membaca Al-Qur’an sementara Al-Qur’an yang melaknatnya.” Raghib As-Sirjani mengatakan tentang ini bahwa, “Allah melaknat mereka yang hanya membaca dan menghapalkan ayat-ayatNya, sementara mereka tidak mengamalkannya.”[32]

Setiap kali Umar bin Khattab menghapalkan ayat dari Al-Qur’an, ia akan segera mengamalkannya, baru kemudian ia berpindah keayat selanjutnya. Riwayat ini menjelaskan bahwa Umar bin Khattab faham betul fungsi Al-Qur’an bukanlah sebagai kitab yang hanya terbatas dihafalkan atau untuk memohon berkah, namun di atas semua itu ia menyadari bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang mulia yang menjadi dustur (sistem hidup) bagi segenap kaum muslimin.[33]

Badwilan mengatakan bahwa, “Seorang penghapal Al-Qur’an seharusnya menjadi “Al-Qur’an berjalan” dikalangan umat manusia dalam perilaku dan akhlaknya. Janganlah menjadi seseorang yang sombong dihadapan hamba-hamba Allah lainnya. Namun, semestinya ia mempunyai ciri-ciri seperti kesederhanaan, rasa hormat, ketaatan kepada Allah, dan rendah hati kepada sesama manusia.”[34]

Imam Malik r.a ditanya, “Dengan apakah seseorang mendapatkan hafalan?” Beliau menjawab, ‘Ia akan mendapatkannya dengan meninggalkan maksiat’.”[35] Imam Syafi’i berkata: “Aku mengadu kepada Waki’ tentang hafalanku yang buruk, Lalu ia menunjukkan kepadaku agar meninggalkan maksiat, ia berkata: Ketahuilah bahwa ilmu itu adalah cahaya, dan ilmu Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.”[36]

i.   Bertalaqqi pada Syaikh (Guru Tahfizh)

Janganlah menjadikan buku sebagai guru satu-satunya, dan jangan pula sampai membaca Al-Qur’an sendirian tanpa guru. Ada sebuah ungkapan sebagaimana dikutip Al-Hajiri mengatakan, ”Barangsiapa yang gurunya adalah buku, maka kesalahannya jauh lebih banyak daripada kebenaran. Karena Al-Qur’an tidak akan sampai sekarang melainkan dengan jalan talaqqi (metode belajar langsung dengan guru) secara lisan.”[37] Untuk mencapai impian menjadi hafizh Qur’an, seorang calon hafizh hendaknya berguru (talaqqi) kepada seorang guru yang hafizh Al-Qur’an, telah mantap agamanya serta guru yang dikenal mampu menjaga dirinya.[38] (Bersambung ke Bagian 2 “Faktor Pendukung dalam Menghapal Al-Qur’an”)

[1] Penulis adalah guru PAI dan Budi Pekerti di SMA Unggulan CT Foundation, alumni Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan.

[2] Q.S Al-Qomar: 17

[3] Abdul Aziz Abdur Rauf, Al-Hafidz. Kiat Sukses Menjadi Hafidz Qur’an Daiyah, Jakarta: Alfin Press, 2006, hlm, 59.

[4] Hamdan Hamud Al-Hajiri, Agar Anak Mudah Menghapal Al-Qur’an, Penerjemah: Hisyam Ubaidillah Bukkar, (Jakarta: Darus Sunnah Press, 2009), hlm, 60-61.

[5] Imam An-Nawawi, Syarah dan Terjemah Riyadhus Shalihin, Jilid I, (Jakarta, Al-I’tishom Cahaya Umat, 2006), hlm, 6.

[6] Hamdan Hamud Al-Hajiri, Op.Cit, hlm, 39.

[7]  Sa’dulloh, 9 Cara Praktis Menghapal Al-Qur’an, Jakarta; Gema Insani Press, 2008, hlm, 30.

[8] Hamdan Hamud Al-Hajiri, Op.Cit, hlm, 43.

[9] Raghib As-Sirjani, dan Abdurrahman Abdul Kaliq, Cara Cerdas Hafal Al-Qur’an, Penerjemah: Sarwedi Hasibuan, Solo, Aqwam, 2007, hlm, 65.

[10] Ahmad Salim Badwilan. Panduan Cepat Menghapal Al-Qur’an, dan Rahasia-Rahasia Keajaibannya, Penerjemah: Rusli, Yogyakarta: Diva Press, 2009, hlm, 132.

[11] Sa’dulloh, Op.Cit, hlm, 35.

[12] Yahya bin Muhammad Abdurrazaq, Metode Praktis Menghapal Al-Qur’an, Penejemah: Luqman Abdul Jalal, Jakarta: Pustaka Azzam, 2004, hlm, 77.

[13] Raghib As-Sirjani dkk, Op.Cit, hlm, 76-77.

[14] Yahya bin Muhammad Abdurrazaq, Op.Cit, hlm, 78-79.

[15] Sa’dulloh, Op.Cit, hlm, 40

[16] Yahya bin Muhammad Abdurrazaq, Op.Cit, hlm. 185.

[17] Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, ESQ, Emotional Spiritual Quotient, (Jakarta: Arga, 2005), hlm, 385.

[18] Ibid, hlm, 387.

[19] Sa’dulloh, Op.Cit, hlm, 31.

[20] Hamdan Hamud Al-Hajiri, Op.Cit, hlm, 60.

[21] Yahya bin Muhammad Abdurrazaq, Op.Cit, hlm, 85.

[22] Abdul Aziz Abdur Rauf, Op.Cit, hlm, 64.

[23] Hamdan Hamud Al-Hajiri, Op.Cit, hlm, 57.

[24] Raghib As-Sirjani, Op.Cit, hlm, 64.

[25] Hamdan Hamud Al-Hajiri, Op.Cit, hlm, 123.

[26] Ibid, hlm, 119

[27] Sa’dulloh, Op.Cit, hlm, 68.

[28] Ibid, hlm, 69.

[29] Yahya bin Muhammad Abdurazaq, Op.Cit, hlm, 105-106.

[30] Raghib As-Sirjani, Op.Cit, hlm, 70.

[31]  Sa’dulloh, Op.Cit, hlm, 34.

[32] Raghib As-Sirjani, Op.Cit, hlm, 67

[33] Ibid, hlm, 68.

[34] Ahmad Salim Badwilan, Op.Cit, hlm, 263.

[35] Ibid, hlm, 97-98.

[36] Ibid, hlm, 129.

[37] Hamdan Hamud Al-Hajiri, Op.Cit, hlm, 88.

[38] Sa’dulloh, Op.Cit, hlm, 32.

Check Also

Photo Credit : https://id.linkedin.com/pulse/jangan-takut...

Jangan Takut Curhat Dengan Guru BK, Ini Alasannya

Mungkin sebagian besar dari teman – teman sudah ada yang tahu apa manfaat dari curhat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *