Home / Berita / Humaniora / Etika Dan Problematika Berhutang
Photo Credit : https://goo.gl/images/FX21NY
Photo Credit : https://goo.gl/images/FX21NY

Etika Dan Problematika Berhutang

Hidup di zaman modern yang penuh dengan perjuangan dan persaingan terkadang harus mengeluarkan segala daya upaya untuk bisa hidup di tengah-tengah masyarakat yang terus berkembang, baik untuk melampau segala pencampaian orang-orang di sekitarnya atau sekedar mempertahankan untuk bisa hidup. Sementara di lain sisi perbandingan perkembangan antara jumlah penduduk dengan lapangan pekerjaan semakin tidak berimbang, tingginya angka kelahiran ditambah dengan migrasi yang tidak terkendali padahal lapangan pekerjaan samakin menipis, perusahaan-perusahaan yang menekan jumlah pekerja dengan menggantinya menjadi tenaga pekerja mesin tentunya semakin menambah permasalahn hidup masyarakat.

Masalah ini hanya segelintir prolemba yang ada di masyarakat yang menuntut kita yang merupakan bagian dari masyarakat untuk lebih bijak mempersiapkan diri sebagai pribadi yang tahan banting, siap berjuang dan berani bersaing dengan individu bahkan masyarkat lain. Bagaimanapun juga langkah memenuhi segala kebutuhan manusia harus dilakukan, tidak mungkin manusia berheneti bekerja sementara kebutuhan menuntut terus bergerak.

Langkah terakhir yang bisa kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan dimana segala langkah benar dan halal yang lain sudah tidak mungkin dilakukan ditengah-tengah persaingan dan perselisihan adalah dengan langkah berhutang. Ya, dengan langkah berhutang atau meminjam kepada orang lain kebutuhan yang kita perlukan mendesak saat ini dan akan kita kembalikan pada waktu yang akan datang sesuai dengan perjanjian saat meminjam atau berhutang.

Namun hal ini bukan berarti tidak ada konsekuensi yang timbul dari tindakan ini. Ada beberapa hal yang muncul setelah dilakukan tindakan berhutang ini, salah satunya adalah tanggung jawab untuk mengembalikan pinjaman tersebut. Terlebih lagi dalam hal ini adalah tentang etika dan tanggung jawab. Tidak sedikit orang yang meminjam mendapatkan kemudahan dari orang tapi setelah mendapatkan bantuan berupa pinjaman ia lupa akan konsekwensi pinjaman itu.

Etika pinjam meminjam atau berhutang sering dilupakan, bahkan tidak sedikit yang meminjam sering terlupa atau sengaja melupakan. Fenomena yang ada di masyarakat adalah si peminjaman atau orang yang berhutang lebih galak atau berprilaku kasar ketika ditagih dari pada orang yang meminjamkan, selain bahwa si peminjam biasa menunda-nunda kewajibannya untuk membayar, lebih mendahulukan kepentingannya yang lain dari pada membayar hutang terlebih dahulu. Padahal bisa jadi membayar hutang lebih utama dari pada kepentingan lain. Contohnya saja dalam ajaran Islam, jika orang hendak melakukan ibadah haji, salah satu syaratnya adalah mampu. Di mana yang dimaksud mampu di sini adalah mampu melaksanakan berdasarkan ada biaya untuk perjalanan dan biaya-biaya lainnya yang muncul selama menjalankan ibadah haji tanpa meninggalkan hutang atau kewajiban lain. Berarti membayar hutang itu lebih utama dari pada melaksanakan ibadah haji itu sendiri.

Karena banyaknya efek yang kurang baik dan konsekuensi yang sering dinampikkan sehingga berhutang atau meminjam itu menjadi suatu tindakan yang kurang enak terdengar, seolah-olah berhutang adalah aib. Padahal berhutang itu halal dan diperbolehkan baik menurut agama ataupun menurut hukum Indonesia. Maka untuk meminimalisir kesan bahwa berhutang itu suatu tindakan yang tidak mulia seharusnya kita memilah-milah kebutuhan. Misalnya saja kita meminjam untuk suatu usaha dagang atau berbisnis, maka orang memandang itu adalah suatu yang lumrah. Jangan meminjam atau berhutang untuk suatu kebutuhan konsumtif atau untuk pemakaian  barang yang sifatnya sekunder atau bahkan tertier.

Jadi pandai-pandailah mengatur pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan supaya antara pendapatan dan pengeluaran seimbang atau bahkan ada sisa pendapatan yang bisa ditabungkan sehingga dengan demikian tidak perlu lagi berhutang-hutang untuk memenuhi kebutuhan. Meskipun halal lebih baik hindari hutang. [Thole]

Check Also

Photo Credit : N4nd0

Menjaga Nama Baik Almamter

Setiap individu yang tamat dari pendidikan formal akan memiliki almamater sekolah pada setiap tingkatnya. Almamater …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *