Home / Berita / Edukasi / HOTS Dalam Matematika
Photo Credit : https://goo.gl/images/mqABD6
Photo Credit : https://goo.gl/images/mqABD6

HOTS Dalam Matematika

Pembelajaran Matematika menurut permen 22 tahun 2006 tentang standar isi bahwa tujuan mata pelajaran Matematika adalah peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :

  1. Memahami konsep Matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.
  2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi Matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan  Matematika.
  3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model Matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
  4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
  5. Memiliki sikap menghargai kegunaan Matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari Matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Berdasarkan tujuan pembelajaran diatas maka mata pelajaran Matematika diberikan kepada semua peserta didik untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Sehingga guru harus mengembangkan ketrampilan berpikir siswa dengan memfasilitasi siswa untuk menjadi pemikir dan pemecah masalah yang lebih baik. Oleh karena itu pembelajaran Matematika dilaksanakan sesuai dengan kehidupan sehari-hari atau pembelajaran problem solving. Hal ini bisa dicapai dengan konsep belajar yang baru, yaitu higher order thinking skills (HOTS). Untuk itu, guru harus menyediakan masalah yang memungkinkan siswa menggunakan keterampilan berpikir tingkat tingginya.

Pengembangan HOTS dalam pembelajaran Matematika

Kemampuan berpikir dasar/ LOTS (lower order thinking) hanya menggunakan kemampuan terbatas pada hal-hal rutin dan bersifat mekanis, misalnya menghafal dan mengulang-ulang informasi yang diberikan sebelumnya. Sementara, kemampuan berpikir tinggi/HOT (higher order thinking) merangsang siswa untuk mengintrepretasikan, menganalisa atau bahkan mampu memanipulasi informasi sebelumnya sehingga tidak monoton. Kemampuan berpikir tinggi (higher order thinking)  digunakan apabila seseorang menerima informasi baru dan menyimpannya untuk kemudian digunakan atau disusun kembali untuk keperluan problem solving berdasarkan situasi. Dengan HOTS ini maka memberikan dampak pembelajaran bagi siswa maupun guru yaitu :

  1. Belajar akan lebih efektif dengan higher order thinking.
  2. Kemampuan intelektual guru dalam mengembangkan higher order thinking.
  3. Dalam evaluasi belajar dengan konsep baru ini, guru harus selalu menyiapkan soal pertanyaan yang nantinya tidak dijawab secara sederhana.

Sejalan dengan teori pembelajaran terbaru seperti konstruktivisme dan munculnya pendekatan baru seperti RME (Realistic Mathematics Education), PBL (Problem Based Learning), serta CTL (Contextual Teaching & Learning), maka proses pembelajaran di kelas sudah seharusnya dimulai dari masalah nyata yang pernah dialami atau dapat dipikirkan para siswa, dilanjutkan dengan kegiatan bereksplorasi, lalu para siswa akan belajar matematika secara informal, dan diakhiri dengan belajar matematika secara formal. Dengan cara seperti itu, para siswa kita tidak hanya dicekoki dengan teori-teori dan rumus-rumus matematika yang sudah jadi, akan tetapi para siswa dilatih dan dibiasakan untuk belajar memecahkan masalah selama proses pembelajaran di kelas sedang berlangsung.

Secara umum, keterampilan berpikir terdiri atas empat tingkat, yaitu:  menghafal (recall thinking), dasar (basic thinking), kritis (critical thinking) dan kreatif (creative thinking) (Krulik & Rudnick, 1999). Tingkat berpikir paling rendah adalah keterampilan menghafal (recall thinking) yang terdiri atas keterampilan yang hampir otomatis atau refleksif. Tingkat berpikir selanjutnya adalah keterampilan dasar (basic thinking). Keterampilan ini meliputi memahami konsep-konsep seperti penjumlahan, pengurangan dan sebagainya termasuk aplikasinya dalam soal-soal. Berpikir kritis adalah berpikir yang memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek dari situasi atau masalah. Termasuk di dalamnya mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisa informasi. Berpikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Ini juga berarti mampu menarik kesimpulan dari data yang diberikan dan mampu menentukan ketidakkonsistenan dan pertentangan dalam sekelompok data.  Berpikir kritis adalah analitis dan refleksif. Berpikir kreatif sifatnya orisinil dan reflektif. Hasil dari keterampilan berpikir ini adalah sesuatu yang kompleks. Kegiatan yang dilakukan di antaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan efektifitasnya. Berpikir kreatif meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan yang biasanya menemukan hasil akhir yang baru. Dua tingkat berpikir terakhir inilah yaitu berpikir kritis  dan berpikir kreatif  yang disebut sebagai keterampilan berpikir tingkat tinggi yang harus dikembangkan dalam pembelajaran Matematika.

Meningkatkan Kemampuan HOTS dalam Pembelajaran Matematika

Dalam meningkatkan kemampuan berpikir tinggi siswa, maka guru harus memfasilitasi siswa untuk menjadi pemikir dan pemecah masalah yang lebih baik yaitu dengan cara memberikan suatu masalah yang memungkinkan siswa untuk menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Masalah yang dimaksud disini adalah soal yang dibuat oleh guru, dan siswa dapat menafsirkan solusi dari soal tersebut. Menafsirkan solusi mengandung arti bahwa siswa tidak berhenti menelaah soal hanya karena jawaban terhadap soal telah ditemukan.  Akan tetapi kegiatan penafsiran ini selain tidak begitu jelas, juga tidak cukup membuat siswa menggunakan keterampilan berpikir tingkat tingginya. Untuk itu diperlukan kegiatan-kegiatan lain yang dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa dalam bentuk menjawab pertanyaan-pertanyaan inovatif: Adakah Cara lain? (What’s another way?), Bagaimana jika…? (What if …?), Manakah yang salah? (What’s wrong?), dan Apakah yang akan dilakukan? (What would you do?) (Krulik & Rudnick, 1999).

1.   Adakah cara lain?

Dalam pertanyaan dibuat kondisi soal tetap, tidak berubah kemudian fokuskan pada problem, serta siswa diminta untuk mengerjakan soal tersebut dengan cara lain. Hal ini melatih ketrampilan berpikir kreatif pada siswa.

Misalnya : Seorang anak memiliki sejumlah uang logam yang terdiri dari mata uang dua ratusan dan lima ratusan. Jumlah uang seluruhnya adalah Rp. 7.600,00. Jika anak itu mempunyai 20 keping uang logam. Maka berapa keping masing-masing uang logam? Adakah cara lain untuk mengerjakan soal dengan jawaban yang sama?

2.   Bagaimana jika…?

Dalam pertanyaan ini apabila kondisi soal berubah maka berpengaruh pada jawaban soal, kemudian siswa menganalisis soal yang berubah tersebut. Hal ini melatih ketrampilan berpikir kritis pada siswa.

Misalnya : Dalam sebuah kantong terdapat 12 bola merah, 8 bola ungu, dan 6 bola biru. Pada pengambilan pertama secara acak diperoleh bola ungu dan tidak dikembalikan. Tentukan peluang terambilnya bola merah pada pengambilan kedua?

Jawaban : P(M) = nM/nS=12/25

Kemudian ajukan pertanyaan Bagaimana jika bola ungu pada pengambilan pertama dikembalikan? Berapa peluang terambilnya bola merah pada pengambilan kedua?

3.   Manakah yang salah?

Dalam pertanyaan ini Disajikan soal dan jawabannya, tetapi jawaban tersebut memuat kesalahan misalnya pada konsep atau perhitungan kemudian siswa diminta mencari kesalahan, memperbaiki, menjelaskan, dan memperbaiki. Hal ini melatih ketrampilan berpikir kritis dan kreatif  pada siswa.

Contoh : Di suatu agen koran dan majalah terdapat 10 orang berlangganan koran dan majalah, 20 orang berlangganan koran, dan 35 orang berlangganan majalah. Berapa banyak pelanggan seluruhnya ?

Jawaban : Berlangganan korang dan majalah      : 10 orang

                        Berlangganan koran                           : 20 orang

                        Berlangganan majalah                       : 30 orang

                                                     TOTAL                     : 60 orang

Agen tersebut mengatakan salah. Manakah yang salah ?

Jawaban 1 : seharusnya banyak orang yang berlangganan koran adalah 10 orang, yang hanya berlangganan  majalah 20 orang, dan yang berlangganan kedua-duanya adalah 10 orang. Sehingga total pelanggan seluruhnya adalah 10 + 20 + 10 = 40 pelanggan.

4.   Apakah yang akan dilakukan?

Setelah menyelesaikan, siswa diminta membuat keputusan misalnya lewat gagasan atau pengalaman pribadi siswa, kemudian siswa juga harus menjelaskan dasar keputusannya. Hal ini melatih ketrampilan berpikir kreatif  dan melatih ketrampilan berkomunikasi siswa.

Misalnya : Andi ditawari oleh temannya untuk memilih salah satu dari dua minuman ringan. Minuman yang pertama dengan merk “X” berbentuk tabung dengan jari-jari 7 cm dan tinggi 16 cm. Minuman yang kedua dengan merk “Y” berbentuk balok dengan berukuran 7 cm x 10 cm x 33 cm7cm ×10cm ×33cm. Minuman merk apa yang harus Andi pilih ? Mengapa ?

Referensi

Harta, Idris. 2010. “Pertanyaan-Pertanyaan Inovatif untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi”. Artikel diambil dari http://www.idrisharta.blogspot.com.

Krulik, S & Rudnick. 1999.” Innovative Taks to Improve Critical and Creative Thinking Skills. Develoving Mathematical Raesoning in Grades K-12”, pp.138-145.

Check Also

Credit : https://sparkleskills.com/emotional....

Kecerdasan Emosional, Pentingkah…???

Menurut Goleman (2002:34) mengatakan bahwa kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% dari kesuksesan, sedangkan 80% …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *