Home / Berita / Inspirasi / Jarimu Harimaumu
Photo Credit : https://www.seoweblogistics.com/seo-services
Photo Credit : https://www.seoweblogistics.com/seo-services

Jarimu Harimaumu

Pola kehidupan modern yang terjadi di sepuluh tahun terakhir ini telah mengubah pola hidup seorang makhluk hidup bernama manusia. Pola kehidupan tersebut dimana manusia dapat melihat dunia hanya melalui genggaman ditangan saja. Melalui sentuhan jari pada layar telepon pintar, manusia dapat berkata dan berbuat apapun, dimana pun dan kapan pun. Pola kehidupan ini juga merubah manusia dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Pola kehidupan ini diciptakan ini akhirnya dikenalkan oleh sebuah media bernama sosial media.

Menurut Caleb T. Carr dan Rebecca A. Hayes (2015)Media sosial adalah media berbasis Internet yang memungkinkan pengguna berkesempatan untuk berinteraksi dan mempresentasikan diri, baik secara seketika ataupun tertunda, dengan khalayak luas maupun tidak yang mendorong nilai dari user-generated content dan persepsi interaksi dengan orang lain.

Kemunculan sosial media pertama sekali dimulai pada tahun 1995 yaitu saat diluncurkannya situs bernama Geocities (situs ini melayani Web Hosting yaitu layanan penyewaan penyimpanan data – data website agar halaman website tersebut bisa di akses dari mana saja, dan kemunculan GeoCities ini menjadi tonggak dari berdirinya website – website lain) Kemudian pada tahun 1999 situs blogger dikenalkan. Situs ini menawarkan penggunanya untuk bisa membuat halaman situsnya sendiri. sehingga pengguna dari blogger ini bisa memuat hal tentang apapun. Termasuk hal pribadi ataupun untuk mengkritisi pemerintah. sehingga bisa dikatakan blogger ini menjadi tonggak berkembangnya sebuah media sosial. Kemudian pada tahun 2002 sosial media baru dikenalkan kepada publik bernama Friendster dan pada tahun 2004 dunia dihebohkan dengan kemunculan situs sosial media baru bernama facebook yang akhirnya menjadi perubahan pola kehidupan modern saat ini.

Saat ini facebook mengklaim bahwa jumlah pengguna aktif hampir menyentuh angka 2 miliar. Dalam laporan keuangan kuartal empat 2016, Facebook mengatakan pengguna aktif bulanan mereka berada di angka 1,86 miliar pengguna (https://kumparan.com/aditya-panji/jumlah-pengguna-aktif-facebook-hampir-2-miliar) dengan pengguna sebanyak itu sebanding dengan jumlah status pribadi yang sudah tersebar di facebook.

Sosial media membuat seseorang dapat berpendapat dan menulis dengan mudah bahkan terkesan tanpa batas. Dengan beralasan sebagai pemilik akun pribadi dari sosial media tersebut, maka tanpa penyaringan terlebih dahulu kita dapat mempublikasikan apa yang sedang kita lakukan, yang sedang kita pikirkan, dan yang sedang kita rasakan. Kita juga dapat membagi informasi sebanyak-banyaknya dan sebebas-bebasnya kepada khalayak ramai yang terkoneksi dengan jejaring media.

Namun, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Seharusnya penggunaan sosial media harus disikapi dengan bijak. Manfaat yang ditimbulkan dari sosial media juga sangat luas apabila penggunaannya juga digunakan dengan cara yang  baik. Bila ada pepatah “mulutmu adalah harimau mu” maka sekarang pepatah itu berganti menjadi “jarimu adalah harimau mu” apa yang  kita ketik di keyboard komputer atau telepon pintar maka itu adalah representasi dari si pemilik akun.

Mungkin masih segar diingatan mengenai kasus Florence Sihombing dengan masyarakat Yogyakarta. Saat Florence membuat status di media sosialnya Path mengatakan sesuatu yang buruk tentang masyarakat Yogyakarta. Dalam status Path, Florence mengatakan bahwa ““Jogja miskin, tolol, dan tak berbudaya. Teman-teman Jakarta-Bandung jangan mau tinggal Jogja.” Pada saat menulis hal tersebut, Florence kemungkinan tidak bepikir bahwa sesuatu yang telah di bagikan ke publik, maka itu menjadi milik publik. Jadi publik dapat menilai, mengomentari, bahkan menuntut statusnya tersebut. Hal ini sudah diatur dalam UU ITE No.11 tahun 2008 terkait penghinaan dan pencemaran nama baik dan provokasi mengkampanyekan kebencian. Kasus ini menjadi besar karena menjadi isu nasional yang akhirnya akan membuat Florence menyesal seumur hidupnya bahwa dia tidak akan pernah menuliskan status yang menebar kebencian lagi.

Saat ini juga banyak tersebar berita hoax yang dengan mudahnya menyebar dari status ke status di dinding sebuah platform sosial media. Tanpa dapat dibuktikan kebenaran dan keabsahan, sebuah informasi dapat dengan mudah merubah pola pikir seseorang dan menghancurkan orang lain atau sebuah instansi.

Sudah saatnya kita bijak menggunakan sosial media dan belajar menyebarkan informasi bermanfaat. Hentikan menyebar kebencian, status tak berguna, galau yang tak berkesudahan, dan informasi yang salah. Jangan menjadi jembatan dosa orang lain dengan membaca atau membagikan informasi yang tidak baik tersebut. Gunakanlah media sosial secara bijak. Cari kebenaran informasi yang Anda baca, jangan hanya karena informasi tersebut terlihat menarik maka Anda langsung menyebarkannya lewat media sosial. Mengapa? Karena salahnya informasi yang Anda berikan bisa berdampak buruk bagi orang lain. Karena jarimu adalah harimau mu. [Euizze]

Check Also

4 lilin

Kisah Empat Lilin

Ada 4 lilin yang menyala, Sedikit demi sedikit habis meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *