Home / Berita / Edukasi / Kecerdasan Emosional, Pentingkah…???
Credit : https://sparkleskills.com/emotional....
Credit : https://sparkleskills.com/emotional....

Kecerdasan Emosional, Pentingkah…???

Menurut Goleman (2002:34) mengatakan bahwa kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% dari kesuksesan, sedangkan 80% adalah sumbangan faktor-faktor yang lain, di antaranya adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati, berempati serta kemampuan bekerjasama.

Istilah kecerdasan emosional dalam Islam dapat dijumpai dalam konsep lahir batin yang terdapat dalam ajaran Islam. Menurut petunjuk Al-Quran bahwa setiap ciptaan Tuhan seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, air, udara, tanah, dan sebagainya memiliki jiwa. Selain mengisyaratkan adanya kasih sayang dan kekuasaan Tuhan yang terdapat dibalik ciptaan tersebut juga semua itu memiliki jiwa dan emosi. Menurut Abuddin Nata (2003:14) mengatakan bahwa jika benda itu diberlakukan dengan baik, maka semua itu akan memberikan manfaat bagi kehidupan dan sebaliknya jika benda itu diberlakukan dengan tidak baik maka benda itu juga akan bereaksi kasar terhadap manusia. Hal ini menunjukan bahwa kecerdasan emosional sangat penting dalam menompang kelangsungan hidup manusia. Kalau kita mau jujur sesungguhnya keberhasilan manusia dalam mengelola kehidupan (rumah tangga, bisnis, pergaulan, karir, dll) tidak hanya ditentukan oleh gelar-gelar universitas dalam maupun luar negeri, pendidikan yang tinggi, indeks kumulatif, apalagi intelektual seseorang. Orang pintar bahkan genius tidak punya jaminan pintar juga dalam mengatur kehidupannya, bahkan banyak juga yang menuai kegagalan. Kecerdasan IQ yang tinggi yang mereka miliki justru telah banyak diruntuhkan oleh emosi dan ketidaksabaran mereka dalam berbagai peristiwa di kehidupannya. Ketidakmampuan mereka dalam mengendalikan emosi itu bisa melahirkan konsekuensi negatif yakni terbunuhnya nalar intelektual. Orang yang sedang dalam keadaan marah (emosi tidak stabil) tidak mampu berfikir secara obyektif dan rasional.

Dengan demikian, emosi memang memegang peran yang sangat penting dalam berlangsungnya kehidupan manusia, karena dengan emosi manusia dapat mengontrol tindakan yang dilakukan, menjaga diri, menjalin hubungan dengan orang lain, mempunyai keinginan untuk berkompetensi, dan lain sebagainya. Tapi apabila emosi yang berlebihan, maka akan mengalahkan nalar yang rasional sehingga kurang baik bagi kehidupan manusia dan itu yang perlu dilatih dan dikembangkan.

Sekolah merupakan salah satu yang sangat tepat untuk mengembangkan kecerdasan emosional para peserta didik, sekaligus untuk memperbaiki kacacatan anak di bidang keterampilan emosional dan pergaulan. Karena praktis ketika anak masuk ke sekolah (setidaknya pada awalnya), dan di sekolahlah anak akan diberi pelajaran dasar untuk hidup yang barangkali belum pernah ia dapatkan dengan cara yang lain. Kemudian hal yang dapat dilakukan dalam mengembangkan kecerdasan emosional yakni dengan memahami skill-skill kecerdasan yang harus diperhatikannya dan memanfaatkan untuk keberhasilannya. Hal ini ketika diterapkan dalam pendidikan sebagai transfer of knowledge dan transfer of value, maka pendidikan akan dapat berhasil dengan baik, pelajaran akan dapat dengan mudah diterima, dan peserta didik akan mempunyai emosi yang cerdas serta mempunyai semangat untuk merealisasikan hasil pendidikan yang diperolehnya. Dengan hati yang tenang dan tentram maka akan menghasilkan pola berfikir dan bertingkah laku yang baik serta akan mengantarkan seseorang yang cerdas dalam hal emosional dan intelektualnya. Peran pendidik dan orang tua disini tidak dapat diabaikan dalam mendidik anak menuju kecerdasan emosional menjadi sesuatu yang perlu dilestarikan tidak hanya melepaskan manusia dari bencana kemanusiaan akan tetapi juga membentuk kecerdasan emosional yang terbukti memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan sukses tidaknya seseorang.

Sistem pendidikan di Indonesia, tidak dapat dipungkiri telah lama mengorientasi tujuannya pada kawasan kognitif atau intelegensi intelektual semata tanpa memperhatikan ranah-ranah yang lain. Mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi jarang ditemui pendidikan tentang integritas, kejujuran, komitmen, kreativitas, prinsip kepercayaan, padahal itu yang lebih penting. Akibat dari terlalu lebih mementingkan aspek kognitif tersebut maka tak jarang siswa yang tidak memiliki sistem nilai yang dapat digunakan untuk membentuk mental dan etos kerja mandiri, maka banyak terjadi berbagai macam pelanggaran yang dilakukan oleh siswa, lenyapnya sopan santun, serta hilangnya kepedulian terhadap sesama. Oleh karena itu, pengembangan kecerdasan emosional penting dilakukan karena mengingat kesuksesan hidup seseorang tidak hanya bergantung kepada kecerdasan intelektual saja, ada kecerdasan lain yang lebih menentukan yakni kecerdasan emosional. [ERWIN]

Sumber :

Daniel Goleman. 2002. Kecerdasan Emosional. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Abuddin Nata. 2003. Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Prenada Media

Nurul Latifah. 2010. Pengembangan Kecerdasan Emosional Siswa Kelas XI MAN Wonokromo Bantul Yogyakarta. Yogyakarta: Fak. Tarbiyah UIN Sunan kalijaga.

Syamsu Yusuf. 2005. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya

Check Also

Photo Credit : https://goo.gl/images/THSVWa

Gaya Belajar Imam Syafi’i

Imam Syafi’i dilahirkan di Gaza, Palestina, pada tahun 150 H. la diberi nama Muhammad bin …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *