Home / Berita / Inspirasi / 7 Hal Yang Harus Kamu Lakukan Jika Berkunjung Ke Medan

7 Hal Yang Harus Kamu Lakukan Jika Berkunjung Ke Medan

Medan adalah kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Dengan populasi penduduk sekitar 2 juta orang, Medan merupakan kota terbesar di luar pulau Jawa.

Agustus 2005, saya menginjakkan kaki pertama kali di tanah yang didirikan oleh Guru Patimpus ini. Satu hal yang menjadi kesan awal saya adalah kemajemukan etnis yang ada di dalamnya. Tidak ada satu etnis yang mendominasi Kota Medan. Etnis Tionghoa, Jawa, Toba-Batak, Minangkabau, Mandailing Batak, Karo Batak, India Selatan, dan India Utara, bercampur menjadi satu. Dan masih banyak lagi etnis minoritas lainnya.

Setiap kelompok etnis tersebut berkontribusi terhadap kelezatan ribuan hidangan yang dapat ditemukan di setiap sudut kota. Mereka menawarkan kepada setiap penduduk lokal maupun wisatawan berbagai jenis makanan yang sesuai dengan lidah masing-masing. Dari masakan Jawa yang manis, masakan melayu yang penuh rempah, selera Padang yang pedas, mie Cina yang gurih, hingga kari India yang super pedas. Masakan bervariasi ini tersedia 24 jam sehari, selama 7 hari seminggu. Hal inilah yang menyebabkan Medan cukup terkenal sebagai tempat wisata kuliner, terutama bagi mereka yang datang dari luar kota.

Meskipun Medan bukan tujuan wisata utama di Indonesia, namun ia merupakan tempat persinggahan yang nyaman sebelum anda melanjutkan perjalanan ke Berastagi, Penang Malaysia, Banda Aceh dan pastinya ke tempat yang paling populer yaitu Danau Toba. Dan, berikut ini adalah 7 hal yang harus anda lakukan ketika berkunjung ke Kota Medan agar perjalanan anda lebih bermakna.

Nongkrong di Merdeka Walk

merdekawalk

Terinspirasi dari Al Fresco Dining di Singapura, kafe-kafe di Merdeka Walk menawarkan tempat nongkrong yang menyenangkan. Anda dapat memilih jenis makanan cepat saji atau makanan ala resto sesuai dengan isi kantong anda. Pilihan saya adalah restoran Nelayan yang menyediakan dimsum dan teh hangat, dan sesekali menikmati pek-pek Palembang dan kwetiau di food court. Ada kurang lebih 30 outlet makanan dan 700 kursi tersedia bagi wisatawan dan penikmat malam di night market ini.

Berlokasi di pusat kota, Merdeka Walk diapit oleh Hotel Grand Aston, bangunan kuno Balai Kota dan Bank Indonesia di sebelah barat, bangunan kuno Pos Indonesia dan beberapa perkantoran di sebelah utara, alun-alun kota dan stasiun kereta api di sebelah timur dan Bank Mandiri serta jajaran bangunan-bangunan kuno jaman kolonial yang telah dirubah fungsinya menjadi bank dan perkantoran di sebelah selatan yang dikenal dengan sebutan Kesawan Square.

Lalu lalang kendaraan, kerlap-kerlip lampu hias yang ditempel di pohon trembesi tua dan sesekali pentas seni atau live musik di Merdeka Walk menambah semaraknya nongkrong malam minggu anda.

Wisata Sejarah di Istana Maimun

 

MAIMUN

Tidak afdol rasanya jika anda berkunjung ke Medan namun tidak singgah di tempat ini. Istana Maimun merupakan salah satu landmark kota yang berdiri pada tahun 1590 ini. Ia merupakan peninggalan Kesultanan Deli yang dibangun oleh Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah dengan desain dari seorang arsitek Italia pada tahun 1887 – 1891.

Tidak hanya sejarahnya saja yang menarik banyak wisatawan untuk hadir mengunjungi istana yang berdiri di lahan seluas 2.772 m2 ini, namun juga keunikan desain interiornya. Didominasi warna kuning, Istana Maimun memadukan elemen Melayu dan Islam, dengan sentuhan khas India dan Eropa.

Pengaruh Islam sangat kental sekali terhadap bangunan dua lantai ini, kurva kapal terbalik atau lebih dikenal dengan persian curve yang menghiasi atap istana banyak dijumpai di bangunan-bangunan ala timur tengah di Persia, Turki dan India. Sentuhan eropa terlihat pada desain interior balairung dan pondasi bangunan. Pintu yang tinggi dan jendela yang lebar merupakan pengaruh arsitektur bergaya Belanda dan Spanyol.

Dengan biaya tiket masuk dan ongkos parkir sebesar hanya Rp 10.000,- saja, anda akan disuguhkan pemandangan luar biasa dari peninggalan sejarah negeri ini. Memasuki lantai dua, anda akan mendapati lampu kristal bergaya Eropa yang menerangi foto-foto sejarah kerajaan Deli, baju adat, senjata dan singgasana megah di sisi sebelah kanan.

Di luar bangunan, namun masih di dalam komplek istana anda bisa mengunjungi bangunan kecil yang terdapat sebuah meriam yang patah. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai meriam puntung yang memiliki nilai mistis dan mereka keramatkan.

Wisata Religi di Masjid Raya

MASJID

Tidak jauh dari Istana Maimun, sekitar 200 m di depannya, berdiri masjid raya Medan atau juga dikenal dengan Masjid Raya Al Mashun. Pada awal pendiriannya, masjid berbentuk segi delapan ini menyatu dengan komplek istana. Hal ini menunjukkan betapa pedulinya Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam terhadap perkembangan agama Islam zaman itu.

Pembangunan masjid memakan waktu kurang lebih 3 tahun. Dimulai pada tahun 1906 dan selesai pada tahun 1909, ditandai dengan pelaksanaan sholat Jumat perdana di masjid yang menghabiskan dana satu juta Gulden ini. Pendanaan pembangunan ditanggung sendiri oleh Sultan, namun konon Tjong A Fie seorang tokoh Medan dari etnis Tionghoa juga membantu dalam pendanaannya.

Memasuki gerbang masuk utama, anda akan disuguhkan dengan arsitektur masjid yang sekilas mirip dengan masjid Baiturrahman Banda Aceh. Corak campuran Maroko, Eropa, Melayu dan Timur Tengah sangat kentara sekali. Jendela-jendela lengkung di sekeliling bangunan mengingatkan kita pada bangunan-bangunan abad pertengahan di Spanyol. Kubah model turki dan menara masjid khas paduan Mesir, Iran dan Arab menghiasi bangunan megah ini.

Mengunjungi Rumah Tjong A Fie

RIMAH

Dari berwisata di komplek istana maimun dan masjid raya Al Mashun menuju tempat nongkrong di Merdeka Walk anda akan melewati rumah Tjong A Fie di daerah Kesawan Square. Rumah bergaya arsitektur Cina kuno yang dipadu dengan gaya Melayu dan Eropa akan membawa anda bernostalgia ke era Baba dan Nyonya.

Tjong A Fie merupakan seorang kapitan Tionghoa sekaligus pengusaha, bankir, dan dermawan kota Medan pada zaman kolonial. Ia sangat berjasa dalam pembangunan kota Medan baik secara fisik maupun kerukunan antar etnis.

Dengan tiket seharga Rp 35.000, anda akan disambut oleh dua ekor singa yang sedang duduk di pintu gerbang dan seekor ular naga membelit pintu yang ada diatasnya. Dua binatang mitologi Cina ini akan membawa anda menyusuri peninggalan sejarah abad ke-19.

Naik Becak Motor

BECAK

Bagi anda pecinta wahana permainan pemacu andrenalin, sayangnya sampai tulisan ini dibuat, Medan belum menyediakan wahananya. Anda harus ke Sibolangit atau Berastagi untuk menikmati roller coaster, kincir raksasa dan lain sebagainya. Namun, ada alternatif lain yang bisa anda coba, jika anda sedikit agak nekad tentunya, naik becak motor!

Bukan rahasia lagi, jalanan di kota Medan sungguh sangat semrawut. Menerobos lampu merah, mendahului dari lajur kiri, suara klakson saling bersahut-sahutan, atau mengendarai kendaraan secara zig-zag sudah menjadi pemandangan biasa di Jalanan ibu kota Sumatera Utara ini. Bagi anda yang baru pertama kali datang ke kota Medan, naik becak motor dengan suasana jalanan seperti ini bisa sangat menantang dan menegangkan.

Cari tukang becak motor yang banyak berkeliaran di jalan-jalan protokol, sampaikan destinasi tujuan wisata anda kemudian tawar harga serendah-rendahnya hingga 50%. Setelah cocok dan sesuai dengan isi kantong, lalu “mainkan”! Anda akan dibawa untuk merasakan sensasi adrenalin yang luar biasa. Membelah kesemrawutan lalu lintas dengan pengendara “profesional” di samping anda, jangan lupa untuk berpegangan erat. Hal naas, jika dewi fortuna sedang tidak bersama anda, anda akan menyaksikan pertengkaran adu mulut di tengah jalan sesama pengendara yang saling berserempetan, atau ditilang polisi yang biasanya berakhir secara “damai”.

Makan Durian Di Pinggir Jalan

DURIAN

Jangan habiskan malam anda hanya di Merdeka Walk, sisakan sedikit energi dan ruang di lambung anda untuk menikmati lezatnya durian Medan. Durian Medan berasal dari beberapa daerah penyangga seperti Sibolga, Pematang Siantar, Simalungun, namun yang paling enak berasal dari Sidikalang.

Pada puncak musim, hampir di sepanjang jalan-jalan kota Medan berderet kedai-kedai durian. Anda bisa memesan rasa durian sesuai dengan selera, pahit atau manis. Anda tinggal duduk, penjual durian yang akan memilihkan dan membukakannya untuk anda. Jika dirasa tidak sesuai di lidah, anda bisa menukarkannya dengan yang lain. Itulah nikmatnya makan durian di Medan.

Kedai durian yang paling terkenal di Medan adalah Durian Ucok, berlokasi di Jl. Wahid Hasyim. Pak Zainal Abidin adalah nama pemiliknya. Ia selalu menyediakan durian bagi para pencinta buah berduri ini meskipun tidak pada musimnya. Namun, jika anda kewalahan dengan harga dan antriannya, anda bisa menyeberang ke sisi lain jalan, di sana ada Durian Pak Singlet.

Sungguh malang nasib saya, saya tidak lagi diperbolehkan makan durian dalam porsi besar oleh dokter. Meskipun saya tetap setia mentraktir teman-teman yang datang ke Medan untuk menikmati buah lezat ini. Kadang saya digoda “Makan duriannya aza Hen, kolesterolnya ga usah”. Saya pun hanya tersenyum dan mencicipi dua atau tiga biji saja.

Beli Bika Ambon Zulaikha dan Bolu Gulung Meranti

BIKAAMBON

Jangan buru-buru meninggalkan Medan sebelum anda membeli buah tangan khas kota ini, bika ambon Zulaikha dan bolu gulung Meranti.

Bika ambon berbentuk persegi panjang, terbuat dari tepung tapioka, santan, gula, telur dan air nira. Sebenarnya banyak merek kue yang bisa bertahan sampai 4 hari ini, namun yang paling terkenal adalah merek Zulaikha yang berlokasi di Jl. Mojopahit no. 62. Dengan harga berkisar antara Rp 60.000,- sampai Rp 70.000 anda akan merasakan sensasi rasa yang lembut dengan serat yang sempurna dan rasa lemak di ujung lidah.

Tidak jauh dari gerai bika ambon Zulaikha, menyeberang ke arah belakang Mall Medan Fair tepatnya di Jalan Kruing, anda bisa mendapati antrian yang sama seperti di Jalan Mojopahit. Di situlah gerai bolu gulung Meranti berada. Dengan harga berkisar antara Rp 45.000,- sampai dengan Rp 75.000,-, 1 kotak bolu dengan tekstur lembut dan rasa sesuai pilihan bisa anda bawa ke kampung halaman.

Oh ya, satu lagi. Penduduk Medan tidak seperti banyak disangkakan orang. Meskipun suaranya keras namun hatinya lembut dan romantis. Buktinya, banyak pencipta lagu dan penyanyi nasional yang berasal dari kota ini khan? CMIIW.  (hensba)

Check Also

Photo Credit : https://goo.gl/images/nBU9AV

Filosofi Bunga

1.   Bunga Matahari Siapa yang tidak tahu bunga berukuran besar dengan kelopak berwarna kuning yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *