Home / Berita / Edukasi / PEMECAHAN MASALAH (PROBLEM SOLVING) DALAM PEMBELAJARAN
DSC_2345

PEMECAHAN MASALAH (PROBLEM SOLVING) DALAM PEMBELAJARAN

Kemampuan memecahkan masalah menjadi tujuan utama di antara beberapa tujuan belajar. Mengapa demikian? Menurut Holmes (1995), latar belakang atau alasan seseorang perlu belajar memecahkan masalah adalah adanya fakta bahwa orang yang mampu memecahkan masalah akan hidup dengan produktif dalam abad dua puluh satu ini. Menurut Holmes, orang yang terampil memecahkan masalah akan mampu berpacu dengan kebutuhan hidupnya, menjadi pekerja yang lebih produktif, dan memahami isu-isu kompleks yang berkaitan dengan masyarakat global.

Lenchner (1983) menyatakan bahwa setiap penugasan kepada siswa dalam belajar dapat dikelompokkan ke dalam dua hal, yaitu sebagai: (1) soal biasa/latihan (drill exercise), dan (2) masalah (problem) untuk dipecahkan. Menurutnya exercise is a task for which a procedure for solving is alredy known, frequently an exercise can be solved by the direct application of one or more computational algorithms. Jika diterjemahkan kurang lebih bermakna “latihan adalah suatu tugas yang cara atau prosedur penyelesaiannya telah diketahui, seringkali suatu latihan dapat diselesaikan dengan langsung menerapkan satu atau lebih algoritma komputasi”.

Misalnya

Amir mempunyai 10 buku baru. Masing-masing buku tebalnya 2 cm. Jika Amir menumpuk buku-buku tersebut menjadi satu tumpukan, berapa tinggi tumpukan buku tersebut?

 Soal di atas sekedar latihan/exercise saja, sebab cara penyelesaiannya langsung dapat diketahui.

Berbeda dengan masalah, menurut Lenchner, a problem is more complex because the strategy for solving is not immediately apparent; solving a problem requires some degree of creativity or originality on the part of the problem solver. Jika diterjemahkan kurang lebih bermakna “suatu masalah adalah lebih komplek karena strategi untuk menyelesaikannya tidak langsung terlihat; menyelesaikan suatu masalah menuntut tingkat kreativitas atau keoriginalitas dari penyelesain masalah”.

Misalnya

Tentukan hasil dari;  .

Cara penyelesaian tugas/pertanyaan di atas tidak bisa langsung terlihat sehingga perlu diselidiki, dicoba-coba, dilakukan pendugaan dan sebagainya.

Bagaimana kriteria agar suatu tugas dapat dikelompokkan sebagai masalah?  Lenchner  (1983) menyatakan dua hal berikut ini terkait masalah.

  1. Suatu pertanyaan akan menjadi masalah hanya jika pertanyaan itu menunjukkan adanya tantangan yang tidak dapat dipecahkan dengan suatu prosedur yang sudah diketahui oleh penjawab pertanyaan.
  2. Suatu masalah bagi si A belum tentu menjadi masalah bagi si B jika si B sudah mengetahui prosedur untuk menyelesaikannya, sementara si A belum pernah mengetahui prosedur untuk menyelesaikannya.

TAHAPAN PEMECAHAN MASALAH

Tahapan pemecahan masalah yang terkenal adalah menurut George Polya (1957) yaitu empat tahap rencana, berguna baik untuk masalah rutin maupun nonrutin. Tahapannya sebagai berikut.

  1. Memahami masalah.
  2. Membuat rencana pemecahan masalah.
  3. Melaksanakan rencana pemecahan masalah.
  4. Membuat review atas pelaksanaan rencana pemecahan masalah.

Tahap 1: Memahami Masalah

Lenchner (1983) menyatakan bahwa sebelum siswa menggoreskan pensil pada kertas dalam usaha menyelesaiakan masalah, doronglah mereka untuk berpikir (think) tentang masalah yang sudah ada di hadapannya. Jika siswa tampak tidak memiliki pertanyaan, diharapkan guru yang mengajukan pertanyaan. Berikut ini beberapa contoh pertanyaan pendorong.

  1. Apakah masalah yang ada memberimu cukup informasi? Atau terlalu banyak informasi?
  2. Apa pertanyaan yang harus dijawab?
  3. Seperti apa gambaran masalahnya?

Tahap 2: Membuat Rencana Pemecahan Masalah

Menurut Lenchner (1983), ketika siswa telah memahami masalah yang dihadapi, saatnya mereka selanjutnya memutuskan rencana aksi untuk menindaklanjuti pemecahan masalah (membuat strategi). Strategi yang tepat untuk memecahkan masalah cukup banyak dan bervariasi, tetapi berikut ini beberapa diantaranya yang paling banyak digunakan:

  1. Menemukan pola
  2. Membuat gambar atau diagram
  3. Membuat daftar yang terorganisasi
  4. Membuat tabel
  5. Menyederhanakan masalah
  6. Mencoba-coba
  7. Melakukan eksperimen
  8. Bergerak dari belakang (mundur)
  9. Menulis persamaan

Tahap 3: Melaksanakan Rencana Pemecahan Masalah

Proses inti yang harus dilakukan dalam memecahkan masalah adalah melaksanakan rencana pemecahan masalah yang sudah dibuat atau dipikirkan. Seringkali selama proses pemecahan masalah siswa dihadapkan pada proses perhitungan aritmetika. Bila siswa mengalami hambatan dalam hal itu, maka proses pembelajaran perlu dikondisikan agar bantuan dengan mudah diperoleh siswa, baik dari guru atau siswa lain. Pada tahap ini siswa perlu mengecek langkah demi langkah proses pemecahan masalah, apakah masing-masing langkah sudah benar.

Tahap 4: Pembelajaran  Melihat (Mengecek) Kembali

Setelah mendapatkan jawaban permasalahan seringkali siswa merasa telah sukses memecahkan masalah, namun kadang-kadang sebenarnya bukan jawaban itu yang dimaksud, atau bisa jadi memang jawaban itu yang dimaksud namun belum lengkap. Oleh karena itu mengecek atau melihat kembali jawaban permasalahan yang diperoleh menjadi penting. Apakah penyelesaian sudah benar dan menjawab pertanyaan? Apakah sudah lengkap? Kadang-kadang masih diperlukan tafsiran lebih lanjut dari jawaban yang diperoleh. Hal itu juga dapat memfasilitasi terjadinya deteksi kesalahan-kesalahan yang mungkin dibuat. (Muhammad Idris, S.Si.)

REFERENSI

Holmes, Emma E. 1995. New Directions in Elementary School Mathematics-Interactive Teaching and Learning. New Jersey: A Simon and Schuster Company.

Lenchner, George. 1983. Creative Problem Solving in School Mathematics. New York: Glenwood Publication Inc.

Polya, G. 1957. How to solve it. Garden City, N.Y.: Doubleday & Company.

Wiworo. 2005. Pembelajaran Kemampuan Pemecahan Masalah untuk Siswa. Yogyakarta: PPPG Matematika.

Check Also

Photo Credit : https://goo.gl/images/ep17cT

Persiapkanlah!!!

“Nomor absen 28, soal nomor 3 halaman 46!”, teriak Bu Malawati saat membuka kelas Fisika …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *